PLTN TERAPUNG SECERCAH HARAPAN MELISTRIKI NUSANTARA
PLTN TERAPUNG
SECERCAH HARAPAN MELISTRIKI NUSANTARA
Oleh
Dedy Prasetyo Hermawan (Dedy)
&
M. Rizki Oktavian (Rizki)
Sejak terjadinya kecelakaan Fukushima Daichi pada tahun 2011, masyarakat
mulai meragukan aspek keselamatan yang ada di dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
(PLTN) dan penolakan terhadap pembangunan PLTN pun semakin marak. Meskipun
demikian, sumber energi yang berasal dari nuklir tidak dapat dihilangkan secara
total dari daftar sumber energi yang ada pada saat ini karena sumber energi nuklir
memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dapat diabaikan dan tidak dimiliki
oleh sumber energi lain. Terlebih lagi, dilihat dari kemampuan PLTN dalam
pembangkitan energi secara masif dan bersih
serta potensi pemanfaatan kogenerasi dari PLTN yang dapat digunakan dalam
proses desalinasi air laut untuk mengatasi permasalahan air bersih dunia
membuat sumber energi nuklir semakin tidak bisa ditolak dan dihilangkan. Oleh karena
itu, dinilai lebih baik untuk meningkatkan aspek-aspek keselamatan PLTN
daripada berhenti menggunakan PLTN sama sekali sehingga sumber energi nuklir
dapat terus digunakan dan peluang terjadinya kecelakaan pada PLTN di masa yang
akan datang menjadi lebih kecil.
Salah satu upaya untuk meningkatkan aspek keselamatan PLTN adalah dengan
cara memindahkan PLTN konvensional yang berada di darat ke laut yang biasa
disebut Offshore Nuclear Power Plant (ONPP).
Setidaknya ada empat tipe ONPP yang pada saat ini sedang dikembangkan di dunia,
yaitu tipe submerge, tipe GBS, tipe
terapung (floating).
Tipe Submerge
ONPP
DCNS,
grup industri pertahanan angkatan laut dan energy asal Prancis, mengembangkan
sebuah desain tipe submerge ONPP yang
bernama Flexblue. Flexblue merupakan PLTN
yang berbentuk silinder, modular dan dapat dipindahkan secara fleksibel. PLTN
ini diletakan di dasat laut pada kedalaman 60-100 m dan menggunakan kabel bawah
laut yang digunakan untuk mentrasfer listrik ke konsumen, sama seperti PLTB
(Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) lepas pantai.
Gambar 1. Tipe submerge ONPP, Flexblue
Modul pada PLTN Flexblue difabrikasi
secara terpisah dan paralel, sehingga dapat mempercepat waktu konstruksi.
Selain itu, kondisi ekstrem seperti tsunami, gempa bumi dan cuaca buruk diperkirakan
tidak akan mengganggu PLTN ketika beroperasi. Dengan memanfaatkan air laut
sebagai heat sink, diharapkan
performa reaktor dapat bertahan lama dan efisien.
Tipe-tipe PLTN di atas adalah
tipe-tipe ONPP yang sedang dikembangkan saat ini. Secara garis besar, salah
satu hal penting dalam semua desain ONPP adalah strategi mitigasi
kecelakaannya. Pada saat terjadi kecelakaan parah (severe accident), aksi cepat tanggap untuk melindungi populasi di
sekitar PLTN menjadi tidak dibutuhkan, tidak seperti PLTN konvensional di
darat. PLTN di laut dinilai memiliki kemampuan untuk menjaga kontainmen
reaktornya dengan memanfaatkan air laut yang ada di sekitarnya.
Tipe GBS ONPP
Tipe
GBS merupakan PLTN yang menggunakan sebuah GBS (Gravity-Based Structure) sebagai wadah dan struktur pendukungnya
yang terletak di laut dangkal (20 – 30 m). Desain tipe GBS ONPP ini memiliki
keunggulan tahan tehadap gempa bumi karena energi yang berasal dari gempa bumi
dapat diserap oleh air laut yang mengelilingi struktur bangunan PLTN ini.
Selain itu, keunggulan tipe ini juga tahan terhadap tsunami, meskipun tidak
sebaik ketahanan jenis Offshore Nuclear
Plant (OFNP) karena berada di laut dangkal dan dengan adanya struktur GBS,
PLTN ini juga memiliki ketahanan
berlapis (multiple barrier) yang
dinilai mampu menahan ledakan, tabrakan dengan kapal ataupun dari serangan
teroris.
Gambar 2. Tipe GBS ONPP
Tipe Floating
ONPP (PLTN Terapung)
Pada
saat ini, ada dua negara yang mengembangkan tipe , yaitu Rusia dan Amerika
Serikat. Rusian dengan desain Akademik
Lomonosov dan Amerika Serikat dengan desain Offshore Floating Nuclear Plant (OFNP).
Gambar 3. Desain Akademik Lomonosov
Akademik Lomonosov merupakan PLTN yang dimana reaktor nuklirnya berada di
dalam sebuah tongkang. Pada awal perkembangannya, Akademik Lomonosov didesain
untuk memenuhi kebutuhan listrik dan desalinasi air laut serta eksplorasi
kandungan mineral di daerah utara Rusia. Ada beberapa keunggulan yang dimiliki
oleh desain Akademik Lomonosov, yaitu PLTN ini memiliki biaya kapital yang
lebih rendah daripada PLTN konvensional yang ada di darat dan dapat dipindahkan
ke daerah pinggir pantai mana pun serta dapat juga ditempatkan di sungai yang
cukup besar.


Gambar 4. Desain
OFNP
Desain OFNP merupakan desain PLTN
yang berbasis tipe spar (seperti pada anjungan minyak lepas pantai) yang
ditempatkan pada laut yang dalam. Keunggulan yang dimiliki oleh desain OFNP
adalah memiliki ketahanan terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami lebih tinggi
karena berlokasi di laut dalam. Di daerah laut dalam, tsunami memiliki tinggi
gelombang yang kecil (kurang dari 1 m) dan panjang gelombang yang sangat
panjang. Namun, saat gelombang tsunami mencapai daerah laut dangkal, tinggi
gelombang akan cepat naik hingga mencapai ketinggian 20 m. Selain itu,
keunggulan tipe OFNP ini juga memiliki struktur yang lebih sederhana sehingga
dapat mengurangi biaya dan waktu pembangunan, dan dikelilingi oleh air laut
sebagai ultimate heat sink.
Prospek PLTN Terapung di Indonesia
Berdasarkan
data dari
Kementrian ESDM, rasio elektrifikasi
Indonesia saat ini baru mencapai 87% dan masih terdapat sekitar 12.659 desa
yang belum mendapatkan listrik. Akomodasi
dan akses lah satu biang keladi masalah ini. Coba aja berapa biaya yang
dibutuhin buat bangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kepulauan timur
Indonesia? Untuk menuju sana saja, tidak cukup seminggu dari Jawa. Menggunakan
transportasi udara selain hanya akan meningkatkan biaya berlipat-lipat juga
bakal tidak efisien untuk mengangkut peralatan yang memang butuh banyak tempat.
Permasalahan lain, PLTU juga harus dipasok bahan bakar batu bara tiap
periode tertentu. Di daerah yang memang sulit transportasi, hal ini menambah
ketidakefisienan dari pembangkit listrik. Kemudian, ditambah lagi PLTU umumnya
berukuran besar, ratusan hingga 1000 MW listrik. Bagi daerah non industri,
apalagi daerah tertinggal, beberapa puluh MW sudah cukup untuk melistriki
seluruh wilayah. Hal ini jika dipaksakan, dapat membuang dengan percuma ratusan
MW listrik dan miliaran rupiah tentunya. Oleh karena alasan-alasan tersebut,
pemerintah sulit untuk memasok listrik di daerah tertinggal di Indonesia,
terutama di kepulauan kecil di Indonesia Timur.
Terus bagaimana dengan penggunaan energi terbarukan di daerah tertinggal
Indonesia?
Jawabannya bisa iya, bisa juga nggak.
Semuanya tergantung potensi daerah. Tidak semua daerah mempunyai sumber angin
konstan untuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Tidak semua
tempat juga terdapat air terjun yang cukup besar untuk Pembangkit Listrik Tenaga
Air (PLTA). Selain itu, balik ke masalah efisiensi. Membangun pembangkit
listrik tersebut di daerah terpencil bukan opsi yang bagus nampaknya.
PLTN Terapung yang sedang dikembangkan negara-negara maju, Rusia
terutama, nampaknya memberi angin segar bagi pemenuhan listrik di daerah yang
susah terjangkau. Daratan di Lautan Arktik, Rusia, yang beku dan susah diakses,
bisa menikmati listrik karena adanya PLTN Terapung.
PLTN Terapung yang berbentuk reaktor di atas kapal ini dibuat di pabrik
tempat asalnya dan bukan dibangun di daerah operasinya. Setelah selesai dibuat,
kapal pembawa reaktor akan berlayar menuju tempat operasi dan menyalurkan
listrik ke daratan tempatnya menambat. Hal ini memudahkan dalam sisi ekonomi,
di mana tidak perlunya pembangunan di daerah yang sulit terjangkau. PLTN
Terapung tinggal dikirim saja di daerah yang memerlukan. Selain itu, bahan
bakar yang hanya perlu diisi setiap 12 tahun di pabrik asal menjadikan
simplifikasi operasi dan perawatan reaktor. Begitu juga limbah nuklir yang dihasilkan,
tidak perlu diproses saat di daerah pengoperasian, melainkan dikembalikan ke
pabrik asal untuk diolah dengan peralatan yang memadai.
Penggunaan PLTN Terapung juga menjanjikan mobilitas. Bentuknya yang
terintegrasi dengan kapal laut, menjadikan PLTN Terapung ini mampu berpindah
dari satu tempat operasi ke tempat lain yang memang membutuhkan listrik. Hal
ini menguntungkan Indonesia yang terdiri dari kepulauan-kepulauan kecil. PLTN
Terapung dapat dipindah dari satu pulau ke pulau lain yang memang membutuhkan
pasokan listrik lebih.
Ditambah lagi PLTN Terapung kebanyakan didesain sebagai pembangkit
listrik kecil, hanya berukuran puluhan MW (desain Rusia berkapasitas 70 MW
listrik). Ukuran yang kecil ini sesuai diterapkan di daerah yang tertinggal
karena sesuai dengan kebutuhan daerah tempat dioperasikannya. Dengan begitu,
tidak akan ada energi listrik berlebih yang terbuang.
Satu ketakutan PLTN adalah bahaya limbah dan radiasinya. Hal ini
beruntungnya tidak menjadi hal yang menyeramkan dari PLTN Terapung. PLTN
Terapung terletak di perairan lepas pantai yang tentu tidak langsung kontak
dengan penduduk di daratan sehingga dampak radiasi tidak akan mengenai
penduduk. Selain itu, limbah sudah dijelaskan sebelumnya akan disimpan di dalam
reaktor dan diolah di pabrik asal.
Dari berbagai kelebihan tersebut, PLTN Terapung bukanlah tanpa cacat.
Sebagaimana ketakutan yang dialami di berbagai reaktor nuklir di dunia, tsunami
tetap menjadi ancaman mengerikan. Namun bukanlah ilmu teknik jika tidak ada
solusi untuk tiap prblem. Dengan menaruh PLTN Terapung di perairan terlindung
seperti di teluk, akan menghindarkan dari dampak tsunami. Atau juga, PLTN
Terapung dapat dipindahkan ketika tsunami akan terjadi dengan catatan early warning system untuk tsunami sudah
memadai.
Juga permasalahan lain adalah terkait perizinan. Belum ada undang-undang
di Indonesia yang mengatur perizinan pembangunan dan pengoperasian PLTN
Terapung. Oleh karena itu, perlu bersabar hingga beberapa tahun ke depan bagi
Indonesia jika ingin menerapkan PLTN Terapung di Indonesia.



Komentar
Posting Komentar